Minggu, 26 Januari 2014

TUGAS BIMBINGAN DI SD ( ANAK BERPERILAKU BERMASALAH )


UNARS.jpg
 








TUGAS BIMBINGAN DI SD
( ANAK BERPERILAKU BERMASALAH )

DOSEN PENGAMPUH
AMALIA RISKQI PUSPITA NINGTYAS, S.Psi



OLEH:
PIPIN YILIANTI
NIM :

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ABDURACHMAN SALEH SITUBONDO
JANUARI 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah kepada kami berupa kesehatan dan waktu sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Bimbingan di SD ini dengan tepat waktu. Tugas makalah Bimbingan di SD yang kami beri judul “Bimbingan terhadap anak bermasalah” ini kami susun untuk memenuhi tugas awal mata kuliah evaluasi pembelajaran semester 3.

Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Mulyani selaku dosen pembimbing mata kuliah Bimbingan di SD kami. Karena atas bimbingan dari beliau tugas makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Sebagai penulis tentunya kami berharap agar makalah kami ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk lebih mempelajari dan memahami mata kuliah Bimbingan di SD khususnya materi tentang bimbingan terhadap anak bermasalah. Kami sebagai penyusun makalah ini menyadari bahwa makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan, maka kami sangat berharap saran dan kritik dari pembaca untuk perbaikan makalah-makalah kami dalam kesempatan-kesempatan selanjutnya.




Penyusun
Situbondo, Januari 2014





DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................................
Kata Pengantar................................................................................................... 2
Daftar Isi............................................................................................................. 3
Bab I Pendahuluan.............................................................................................. 4
1.1  Latar Belakang …………………………………………………….
1.2  Manfaat ……………………………………………………………
1.3  Tujuan ……………………………………………………………..
1.4  Rumusan Masalah …………………………………………………
Bab II Kajian Teori
2.1 Pengertian Perilaku Bermasalah........................................................... 4
2.2 Strategi pengelolaan prilaku bermasalah.............................................. 5
Bab III Profil Sekolah
            3.1 Identitas Sekolah …………………………………………………
3.2 Biodata data muri,  kelas rendah yang bermasalah……………….
3.3 Biodata data muri,  kelas tinggi yang bermasalah ……………….
Bab IV Penutup
Kesimpulan..............................................................................................23
Saran ……………………………………………………………………
Daftar Pustaka.................................................................................................... 24






BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Perilaku bermasalah adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif maupun pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerjasama dengan teman merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar peserta didik, dan hal itu merupakan perilaku bermasalah.
Perilaku bermasalah yang nampak dipermukaan, baru merupakan indicator bahwa murid memiliki masalah. Guru hendaknya menyingkap jauh dibalik perilaku yang nampak, agar memiliki pemahaman tentang karakteristik perilaku murid yang sesungguhnya,
Murid SD merupakan individu yang khas, penghampiran terhadap permasalahan individu memerlukan penanganan yang berbeda. Teknik-teknik membantu murid bermasalah memberikan wawasan dalam memberikan bantuan teradap murid bermasalah.
Pendekatan bimbinga perkembangan membawa implikasi bahwa penghampiran pada perilaku murid bermasalah dapat dilakukan dengan mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan karakteristik perkembangan murid.
1.2. MANFAAT
Manfaat disusunnya artikel mengenai pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa Sekolah Dasar adalah :
1.2.1.      Guru dapat mengelola dengan baik perilaku bermasalah pada siswa, sehingga proses KBM dapat berjalan dengan baik dan lancar.
1.2.2.      Guru dapat menggunakan strategi yang tepat untuk mengatasi perilaku bermasalah pada siswa, sehingga perilaku bermasalah dapat ditangani dengan tepat dan diatasi dengan baik.
1.2.3.      Guru tidak perlu khawatir lagi dan cemas dalam menghadapi perilaku bermasalah pada siswa, karena telah memiliki pedoman dalam mengatasi perilaku bermasalah.
1.2.4.      Guru memiliki cara atau upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya perilaku bermasalah pada siswa.
1.2.5.      Suasana kelas/sekolah menjadi aman, nyaman, dan tenang terkendali dengan adanya pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa.

1.3. Tujuan
      Tujuan disusunnya artikel ilmiah pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa Sekolah Dasar adalah :
1.3.1.      Pembaca dapat mengetahui dan menjelaskan pengertian perilaku bermasalah.
1.3.2.      Pembaca dapat mengetahui dan menerapkan strategi yang digunakan dalam menghadapi perilaku bermasalah.
1.3.3.      Pembaca dapat mengetahui bagaimana cara untuk menanggulangi perilaku bermasalah.

1.4. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah artikel ilmiah pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa Sekolah Dasar adalah :
1.4.1.      Apa yang dimaksud dengan perilaku bermasalah?
1.4.2.      Apa saja strategi pengelolaan perilaku bermasalah?
1.4.3.      Bagaimana upaya orang tua dan guru untuk menanggulangi perilaku bermasalah?




BAB II
KAJIAN TEORI

2.1. Pengertian Perilaku Bermasalah
Perilaku bermasalah adalah tingkah laku siswa yang menyimpang dari kebiasaan-kebiasaan temannya. Lebih lanjut dikatakan apabila anak tiba-tiba tidak dapat melakukan apa-apa juga merupakan indikasi bahwa anak mengalami masalah yang segera harus ditangani gurunya.
Salah satu kesulitan memahami perilaku bermasalah ialah karena perilaku tersebut tampil dalam perilaku menghindar atau mempertahankan diri. Dalam psikologi perilaku ini disebut “mekanisme pertahanan diri” karena dengan perilaku tersebut individu dapat mempertahankan diri atau menghindar dari situasi yang menimbulkan ketegangan.
Penggunaan mekanisme pertahanan diri dalam diri anak sebenarnya dikatakan normal apabila dalam taraf yang tidak berlebihan (apabila mekanisme pertahan diri dalam taraf berlebihan disebut neurotik). Sebab tujuan dari mekanisme pertahanan diri adalah untuk melindungi ego dan mengurangi kecemasan yang setiap saat diperlukan setiap orang terutama pada anak-anak.

2.2 Strategi pengelolaan prilaku bermasalah
Salah satu prinsip umum yang bermanfaat dalam memilih sebuah strategi adalah menggunakan sebuah pendekatan yang efektif dalam menghentikan perilaku yang tidak pantas dengan segera dan yang memiliki dampak negatif paling sedikit.

2.2.1. Intevensi Kecil Penggunaan Isyarat Noll

Terkadang menyentuh dengan lembut dilengan atau bahu dari siswa tersebut membantu mengisyaratkan keberadaan Anda dan memiliki efek menenangkan.
2.2.1.1. Teruskan Kegiatan yang Sedang Berlangsung
Sering kali perilaku siswa sangat mengganggu selama masa transisi di antara kegiatan atau selama waktu kosong ketika tidak ada fokus yang dikhususkan bagi pengawasan waktu kosong. Lakukan saja kegiatan selanjutnya dan arahkan para siswa tersebut pada perilaku yang dibutuhkan.
2.2.1.2. Gunakan Kedekatan
Menggabungkan kedekatan dengan isyarat non-verbal untuk menghentikan perilaku yang tidak pantas tanpa mengganggu pelajaran.
2.2.1.3. Gunakan Kelompok Fokus
Gunakan peringatan, pertanggungjawaban grup, atau format partisipasi yang lebih tinggi lagi untuk mengembalikan perhatian siswa pada mata pelajaran ketika perhatian telah mulai tidak fokus atau ketika para siswa sudah tidak aktif lagi dalam jangka waktu yang lama.
2.2.1.4. Berlakukan Penghentian Sejenak
Beritahukan kepada para siswa untuk menghentikan perilaku yang tidak diharapkan. Lakukan kontak mata secara langsung dan bersikap asersif. Pertahankan komentar Anda sesingkat mungkin, dan awasi situasi tersebut hingga siswa tersebut mematuhi.
Masih banyak strategi dalam mengatasi perilaku bermasalah siswa diantaranya arahkan kembali perilaku, memberikan intruksi yang dibutuhkan, berikan sebuah pilihan kepada siswa. 

2.2.2. Intervensi Sedang
2.2.2.1. Menahan Sebuah Hak Istimewa
Para siswa yang menyalahgunakan sebuah hak istimewa (misalnya, yang diperbolehkan bekerja bersama dalam kelompok dalam sebuah proyek, duduk didepat teman-teman, atau memiliki kebebasan berkeliling ruang kelas tanpa izin) dapat kehilangan hak istimewa tersebut dan diwajibkan mendapatkannya kembali dengan menerapkan perilaku yang pantas.
2.2.2.2. Mengisolasi atau Memindahkan Siswa
Para siswa yang mengganggu sebuah kegiatan dapat dipindahkan ke tempat lainnya dari ruangan tersebut, jauh dari para siswa lainnya. Adalah sangat membantu untuk memiliki ruangan dengan sisi-sisi, atau setidaknya sebuah meja dibagian belakang ruangan yang membelakangi para siswa.
2.2.2.3. Gunakan Sebuah Hukuman
Sebagai contoh, dalam pendidikan jasmani, para siswa mungkin diharuskan untuk berlari sebanyak satu putaran tambahan atau melakukan pushup. Atau pelajaran matematika, siswa diberikan soal tambahan. Strategi lain yang bisa diterapkan adalah memberikan penahanan, dan melaporkan ke kantor sekolah.
2.2.3. Intervensi yang Lebih Besar
2.2.3.1. Gunakan Prosedur Intervensi Lima Langkah Jones dan Jones (2001), menyarankan lima langkah berikut ini ketika berurusan dengan perilaku siswa yang mengganggu :
Langkah 1 : Gunakan sebuah tanda non-verbal untuk mengisyaratkan pada
       siswa tersebut agar berhenti.
Langkah 2 : Jika perilaku tersebut tidak berhenti, mintalah siswa tersebut
       untuk menaati peraturan yang diinginkan.
Langkah 3 : Jika gangguan tersebut masih berlanjut, berikan pilihan kepada
   siswa berupa menghentikan perilaku tersebut atau memilih
   mengembangkan sebuah rencana.
Langkah 4 : Jika siswa tersebut masih juga belum berhentu, wajibkan kepada
siswa tersebut agar berpindah ke wilayah yang sudah ditunjuk
dalam ruangan untuk menuliskan sebuah rencana.
Langkah 5 :Jika siswa tersebut menolak mematuhi langkah 4, kirimkan siswa
      tersebut ke lokasi lainnya (misalnya kantor sekolah) untuk
   menyelesaikan rencana.

2.2.3.2. Gunakan Strategi “Saatnya Berfikir”
Strategi saatnya berpikir menyingkirkan siswa yang tidak mau patuh ke ruang kelas dari guru lainnya untuk memberikan waktu bagi siswa tersebut untuk mendapatkan fokusnya dan masuk kembali ke ruang kelas setelah melakukan komitmen untuk mengubah perilaku (Nelson & Carr, 2000).


2.2.3.3. Gunakan Model Terapi Realitas
Gagasan William Glasser (1975) dapat diterapkan menggunakan tahapan berikut ini :
1.      Membentuk keterlibatan dengan para siswa
2.      Fokus pada masalah
3.      Siswa harus menerima tanggung jawab bagi perilaku tersebut
4.      Siswa sebaiknya mengevaluasi perilaku tersebut
5.      Kembangkan sebuah rencana
6.      Siswa harus membuat sebuah komitmen untuk menaati rencana
7.      Tindak lanjuti dan laksanakan.
8.      Selain itu strategi yang dapat digunakan adalah berunding dengan orang tua, dan membuat sebuah kontrak individual dengan siswa.
Upaya Orang Tua dan Guru Untuk Menanggulangi Perilaku Bermasalah Peranan Lembaga Pendidikan Untuk tidak segera mengadili dan menuduh remaja sebagai sumber segala masalah dalam kehidupan di masyarakat, barangkali baik kalau setiap lembaga pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) mencoba merefleksikan peranan masing-masing.

Pertama, lembaga keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama dan pertama. Kehidupan kelurga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan menyebebkan anak tidak kerasan tinggal di rumah. Anak tidak mersa aman dan tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk ketentraman di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan lain-lain. Banyak keluarga yang tak mau tahu dengan perkembangan anak-anaknya dan menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah. Kiranya keliru jika ada pendapat yang mengatakan bahwa tercukupnya kebutuhan-kebutuhan materiil menjadi jaminan berlangsungnya perkembangan kepribadian yang optimal bagi para remaja.

Kedua, bagaimana pembinaan moral dalam lembaga keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kontras tajam antara ajaran dan teladan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku, dan moralitas para remaja. Kurang adanya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan para orangtua ataupun pendidik di sekolah menjadi faktor kunci dalam proses perkembangan kepribadian remaja. Secara psikologis, kehidupan remaja adalah kehidupan mencari idola. Mereka mendambakan sosok orang yang dapat dijadikan panutan. Segi pembinaan moral menjadi terlupakan pada saat orang tua ataupun pendidik hanya memperhatikan segi intelektual. Pendidikan disekolah terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran, sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.

Ketiga, bagaimana kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat apakah mendukung optimalisasi perkembangan remaja atau tidak. Saat ini, banyak anak-anak di kota-kota besar seperti Jakarta sudah merasakan kemewahan yang berlebihan. Segala keinginannya dapat dipenuhi oleh orangtuanya. Kondisi semacam ini sering melupakan unsur-unsur yang berkaitan dengan kedewasaan anak. Pemenuhan kebutuhan materiil selalu tidak disesuaikan dengan kondisi dan usia perkembangan anak. Akibatnya, anak cenderung menjadi sok malas, sombong, dan suka meremehkan orang lain.

Keempat, bagaimana lembaga pendidikan di sekolah dalam memberikan bobot yang proposional antara perkembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak. Akhir-akhir ini banyak dirasakan beban tuntutan sekolah yang terlampau berat kepada para peserta didik. Siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga dipaksa oleh orangtua untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengikuti les tambahan di luar sekolah. Faktor kelelahan, kemampuan fisik dan kemampuan inteligensi yang terbatas pada seorang anak sering tidak diperhitungkan oleh orangtua. Akibatnya, anak-anak menjadi kecapaian dan over acting, dan mengalami pelampiasan kegembiraan yang berlebihan pada saat mereka selesai menghadapi suasana yang menegangkan dan menekan dalam kehidupan di sekolah.

Kelima, bagaimana pengaruh tayangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang acapkali menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan. Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok remaja, Para remaja tidak dipersatukan oleh suatu identitas yang ideal.

BAB III
PROFIL SEKOLAH
A.    IDENTITAS SEKOLAH
Nama Sekolah                         : SDN 2 Demung
Alamat                                    : Demung Barat
Kecamatan                              : Besuki
Status Sekolah                        : Negeri
Status Mutu                            : Pra PSM
Waktu Penyelenggaraan         : Pagi
Kategori Sekolah                    : SD Biasa
NPSN  / NSS                           : 20523031 / 101052303025
Akreditasi                               : B
Akses Internet                         : Smart
Email                                       : sdn2demung@rocketmail.com















B.     Biodata data muri,  kelas rendah yang bermasalah
1.      Nama                                           : Moh.Rohit Mahendra
Tempat Tanggal Lahir                 : Situbondo, 05 Oktober 2005
Anak Ke                                      : 2 dari 2 bersaudara   
Nama Orang Tua                         : Ayah             : Mahfud
                                                      Ibu     : Suromla
Alamat                                         : Kp. Karang Anyar Rt. 02/Rw. 02 Desa Demung
                                                      Kec. Besuki Kab. Situbondo
Jenis-jenis Masalah                       :          Anak tidak memperhatikan pelajaran
Anak yang suka mengganggu teman

2.      Nama                                           : Risky
Tempat Tanggal Lahir                 : Situbondo, 13 November 2001
Anak Ke                                      : 2 dari 2 bersaudara   
Nama Orang Tua                         : Ayah             : Kustijo
                                                      Ibu     : Jula
Alamat                                          : Kp. Karang Anyar Rt. 02/Rw. 03 Desa Demung
                                                        Kec. Besuki Kab. Situbondo
Jenis-jenis Masalah                      :           Anak tidak memperhatikan pelajaran
Anak yang suka mengganggu teman
Anak sering tidak masuk









C.     Biodata data muri,  kelas tinggi yang bermasalah
1.      Nama                                           : Moh. Nur Arisal
Tempat Tanggal Lahir                 : Situbondo, 09 Mei 2002
Anak Ke                                      : 1 dari 2 bersaudara   
Nama Orang Tua                         : Ayah             : Supriadi
                                                      Ibu     : Nuraini
Alamat                                          : Kp. Karang Tambak Rt. 01/Rw. 02 Desa Pesisir
                                                        Kec. Besuki Kab. Situbondo
Jenis-jenis Masalah                      :           Anak tidak memperhatikan pelajaran
Anak yang suka mengganggu teman
Anak sering keluar masuk kelas
Anak Sering tidak masuk



2.      Nama                                           : Putra Fauzi
Tempat Tanggal Lahir                 : Situbondo, 05 Desember 2002
Anak Ke                                      : 1   
Nama Orang Tua                         : Ayah             : Saniman
                                                      Ibu     : Nisa
Alamat                                          : Kp. Ketah Rt. 01/Rw. 01 Desa Demung
                                                        Kec. Besuki Kab. Situbondo
Jenis-jenis Masalah                      :           Anak tidak memperhatikan pelajaran
Anak yang suka mengganggu teman
Anak sering keluar masuk kelas






BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Guru perlu memahami perilaku bermasalah anak, sebab “murid yang bermasalah” biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya.

Murid SD merupakan individu yang khas, penghampiran terhadap permasalahan individu memerlukan penanganan yang berbeda. Teknik-teknik membantu murid bermasalah memberikan wawasan dalam memberikan bantuan terhadap murid bermasalah.

Jadi sebagai guru, terutama guru bagi siswa SD harus mengetahui mengapa suatu anak itu bermasalah dan sebaik mungkin seorang guru SD harus bisa membimbing siswanya dengan baik dan solusi yang tepat agar siswanya dapat keluar dari masalah yang dihadapi.

.     3.2 Saran
       Agar Permasalahan yang terjadi pada anak tidak terulang kembali, hendaknya guru sering memberikan bimbingan dan pengertian kepada anak. Selain itu juga guru lebih sering memberikan penugasan supaya anak dapat mengembangkan dan rangsangan untuk berpikir.      










DAFTAR PUSTAKA

Evertson, Carolyn M. ,Emmer, Edmund T. 2011. Manajemen Kelas untuk Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
.
Imron, Ali. 2011. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

Fandi. 2011. “Bimbingan Bagi Anak Yang Berperilaku Masalah”. http://belajaritu baik.wordpress.com/2011/05/18/bimbingan-bagi-anak-yang berperilakubermasalah-2/. (27
Oktober 2012).

Rian. 2011. “Perilaku Menyimpang”. http://silvrz.blogspot.com /2011/11/perilaku-menyimpang.html. (27 Oktober 2012).



















Foto1670.jpgLAMPIRAN









Moh. Rohit Mahendra
Foto1674.jpg,Risky
 














Foto1681.jpg,Moh. Nur Arisal
Foto1677.jpg,Putra Fauzi