![]() |
TUGAS BIMBINGAN DI SD
( ANAK BERPERILAKU BERMASALAH )
DOSEN
PENGAMPUH
AMALIA
RISKQI PUSPITA NINGTYAS, S.Psi
OLEH:
PIPIN
YILIANTI
NIM
:
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ABDURACHMAN SALEH SITUBONDO
JANUARI 2014
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah kepada kami
berupa kesehatan dan waktu sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata
kuliah Bimbingan di SD ini dengan tepat waktu. Tugas makalah Bimbingan di
SD yang kami beri judul “Bimbingan terhadap anak bermasalah” ini kami susun
untuk memenuhi tugas awal mata kuliah evaluasi pembelajaran semester 3.
Kami
juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Mulyani selaku
dosen pembimbing mata kuliah Bimbingan di SD kami. Karena atas bimbingan dari
beliau tugas makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Sebagai
penulis tentunya kami berharap agar makalah kami ini dapat bermanfaat bagi
pembaca untuk lebih mempelajari dan memahami mata kuliah Bimbingan di SD
khususnya materi tentang bimbingan terhadap anak bermasalah. Kami sebagai
penyusun makalah ini menyadari bahwa makalah kami ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka kami sangat berharap saran dan kritik dari pembaca untuk
perbaikan makalah-makalah kami dalam kesempatan-kesempatan selanjutnya.
Penyusun
Situbondo, Januari 2014
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul....................................................................................................
Kata Pengantar................................................................................................... 2
Daftar
Isi............................................................................................................. 3
Bab I Pendahuluan.............................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang …………………………………………………….
1.2 Manfaat ……………………………………………………………
1.3 Tujuan ……………………………………………………………..
1.4 Rumusan Masalah …………………………………………………
Bab II Kajian Teori
2.1 Pengertian Perilaku Bermasalah........................................................... 4
2.2 Strategi pengelolaan prilaku
bermasalah.............................................. 5
Bab III Profil Sekolah
3.1 Identitas Sekolah …………………………………………………
3.2 Biodata data muri, kelas rendah yang bermasalah……………….
3.3 Biodata data muri, kelas tinggi yang bermasalah ……………….
Bab IV Penutup
Kesimpulan..............................................................................................23
Saran
……………………………………………………………………
Daftar
Pustaka.................................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Perilaku bermasalah adalah suatu persoalan yang harus
menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau
mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif maupun
pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerjasama dengan teman merupakan
perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar peserta didik, dan hal itu
merupakan perilaku bermasalah.
Perilaku bermasalah yang nampak dipermukaan, baru
merupakan indicator bahwa murid memiliki masalah. Guru hendaknya menyingkap
jauh dibalik perilaku yang nampak, agar memiliki pemahaman tentang karakteristik
perilaku murid yang sesungguhnya,
Murid SD merupakan individu yang khas,
penghampiran terhadap permasalahan individu memerlukan penanganan yang berbeda.
Teknik-teknik membantu murid bermasalah memberikan wawasan dalam memberikan
bantuan teradap murid bermasalah.
Pendekatan bimbinga perkembangan membawa implikasi bahwa
penghampiran pada perilaku murid bermasalah dapat dilakukan dengan mengkaji
masalah-masalah yang berkaitan dengan karakteristik perkembangan murid.
1.2. MANFAAT
Manfaat disusunnya artikel mengenai pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa Sekolah Dasar adalah :
Manfaat disusunnya artikel mengenai pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa Sekolah Dasar adalah :
1.2.1.
Guru dapat mengelola dengan baik perilaku bermasalah
pada siswa, sehingga proses KBM dapat berjalan dengan baik dan lancar.
1.2.2.
Guru dapat menggunakan strategi yang tepat untuk
mengatasi perilaku bermasalah pada siswa, sehingga perilaku bermasalah dapat
ditangani dengan tepat dan diatasi dengan baik.
1.2.3.
Guru tidak perlu khawatir lagi dan cemas dalam
menghadapi perilaku bermasalah pada siswa, karena telah memiliki pedoman dalam
mengatasi perilaku bermasalah.
1.2.4.
Guru memiliki cara atau upaya yang dapat dilakukan
untuk mencegah timbulnya perilaku bermasalah pada siswa.
1.2.5.
Suasana kelas/sekolah menjadi aman, nyaman, dan
tenang terkendali dengan adanya pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa.
1.3. Tujuan
Tujuan disusunnya artikel ilmiah pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa Sekolah Dasar adalah :
Tujuan disusunnya artikel ilmiah pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa Sekolah Dasar adalah :
1.3.1.
Pembaca dapat mengetahui dan menjelaskan pengertian
perilaku bermasalah.
1.3.2.
Pembaca dapat mengetahui dan menerapkan strategi yang
digunakan dalam menghadapi perilaku bermasalah.
1.3.3.
Pembaca dapat mengetahui bagaimana cara untuk
menanggulangi perilaku bermasalah.
1.4. RUMUSAN
MASALAH
Rumusan masalah artikel ilmiah
pengelolaan perilaku bermasalah pada siswa Sekolah Dasar adalah :
1.4.1.
Apa yang dimaksud dengan perilaku bermasalah?
1.4.2.
Apa saja strategi pengelolaan perilaku bermasalah?
1.4.3.
Bagaimana upaya orang tua dan guru untuk
menanggulangi perilaku bermasalah?
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Pengertian Perilaku Bermasalah
Perilaku bermasalah adalah tingkah laku siswa yang menyimpang
dari kebiasaan-kebiasaan temannya. Lebih lanjut dikatakan apabila anak
tiba-tiba tidak dapat melakukan apa-apa juga merupakan indikasi bahwa anak
mengalami masalah yang segera harus ditangani gurunya.
Salah satu kesulitan memahami perilaku bermasalah ialah
karena perilaku tersebut tampil dalam perilaku menghindar atau mempertahankan
diri. Dalam psikologi perilaku ini disebut “mekanisme pertahanan diri” karena
dengan perilaku tersebut individu dapat mempertahankan diri atau menghindar
dari situasi yang menimbulkan ketegangan.
Penggunaan mekanisme pertahanan diri dalam diri anak sebenarnya dikatakan normal apabila dalam taraf yang tidak berlebihan (apabila mekanisme pertahan diri dalam taraf berlebihan disebut neurotik). Sebab tujuan dari mekanisme pertahanan diri adalah untuk melindungi ego dan mengurangi kecemasan yang setiap saat diperlukan setiap orang terutama pada anak-anak.
Penggunaan mekanisme pertahanan diri dalam diri anak sebenarnya dikatakan normal apabila dalam taraf yang tidak berlebihan (apabila mekanisme pertahan diri dalam taraf berlebihan disebut neurotik). Sebab tujuan dari mekanisme pertahanan diri adalah untuk melindungi ego dan mengurangi kecemasan yang setiap saat diperlukan setiap orang terutama pada anak-anak.
2.2 Strategi pengelolaan prilaku bermasalah
Salah satu prinsip umum yang bermanfaat dalam memilih
sebuah strategi adalah menggunakan sebuah pendekatan yang efektif dalam
menghentikan perilaku yang tidak pantas dengan segera dan yang memiliki dampak
negatif paling sedikit.
2.2.1. Intevensi Kecil Penggunaan
Isyarat Noll
Terkadang
menyentuh dengan lembut dilengan atau bahu dari siswa tersebut membantu
mengisyaratkan keberadaan Anda dan memiliki efek menenangkan.
2.2.1.1. Teruskan Kegiatan yang
Sedang Berlangsung
Sering
kali perilaku siswa sangat mengganggu selama masa transisi di antara kegiatan
atau selama waktu kosong ketika tidak ada fokus yang dikhususkan bagi
pengawasan waktu kosong. Lakukan saja kegiatan selanjutnya dan arahkan para
siswa tersebut pada perilaku yang dibutuhkan.
2.2.1.2. Gunakan Kedekatan
Menggabungkan
kedekatan dengan isyarat non-verbal untuk menghentikan perilaku yang tidak
pantas tanpa mengganggu pelajaran.
2.2.1.3. Gunakan Kelompok Fokus
Gunakan
peringatan, pertanggungjawaban grup, atau format partisipasi yang lebih tinggi
lagi untuk mengembalikan perhatian siswa pada mata pelajaran ketika perhatian
telah mulai tidak fokus atau ketika para siswa sudah tidak aktif lagi dalam
jangka waktu yang lama.
2.2.1.4. Berlakukan Penghentian Sejenak
Beritahukan
kepada para siswa untuk menghentikan perilaku yang tidak diharapkan. Lakukan
kontak mata secara langsung dan bersikap asersif. Pertahankan komentar Anda
sesingkat mungkin, dan awasi situasi tersebut hingga siswa tersebut mematuhi.
Masih banyak strategi dalam mengatasi perilaku bermasalah siswa diantaranya arahkan kembali perilaku, memberikan intruksi yang dibutuhkan, berikan sebuah pilihan kepada siswa.
Masih banyak strategi dalam mengatasi perilaku bermasalah siswa diantaranya arahkan kembali perilaku, memberikan intruksi yang dibutuhkan, berikan sebuah pilihan kepada siswa.
2.2.2. Intervensi Sedang
2.2.2.1. Menahan Sebuah Hak
Istimewa
Para
siswa yang menyalahgunakan sebuah hak istimewa (misalnya, yang diperbolehkan
bekerja bersama dalam kelompok dalam sebuah proyek, duduk didepat teman-teman,
atau memiliki kebebasan berkeliling ruang kelas tanpa izin) dapat kehilangan
hak istimewa tersebut dan diwajibkan mendapatkannya kembali dengan menerapkan
perilaku yang pantas.
2.2.2.2. Mengisolasi atau
Memindahkan Siswa
Para
siswa yang mengganggu sebuah kegiatan dapat dipindahkan ke tempat lainnya dari
ruangan tersebut, jauh dari para siswa lainnya. Adalah sangat membantu untuk
memiliki ruangan dengan sisi-sisi, atau setidaknya sebuah meja dibagian
belakang ruangan yang membelakangi para siswa.
2.2.2.3. Gunakan Sebuah Hukuman
Sebagai
contoh, dalam pendidikan jasmani, para siswa mungkin diharuskan untuk berlari
sebanyak satu putaran tambahan atau melakukan pushup. Atau pelajaran
matematika, siswa diberikan soal tambahan. Strategi lain yang bisa diterapkan
adalah memberikan penahanan, dan melaporkan ke kantor sekolah.
2.2.3. Intervensi yang Lebih Besar
2.2.3.1. Gunakan Prosedur Intervensi Lima
Langkah Jones dan
Jones (2001), menyarankan lima langkah berikut ini ketika berurusan dengan perilaku
siswa yang mengganggu :
Langkah 1 : Gunakan sebuah tanda non-verbal untuk
mengisyaratkan pada
siswa tersebut
agar berhenti.
Langkah 2 : Jika perilaku tersebut tidak berhenti, mintalah
siswa tersebut
untuk menaati peraturan yang diinginkan.
Langkah 3 : Jika gangguan tersebut masih berlanjut, berikan
pilihan kepada
siswa berupa
menghentikan perilaku tersebut atau memilih
mengembangkan
sebuah rencana.
Langkah 4 : Jika siswa tersebut masih juga belum berhentu,
wajibkan kepada
siswa tersebut agar berpindah ke wilayah yang sudah
ditunjuk
dalam ruangan untuk menuliskan sebuah rencana.
Langkah 5 :Jika siswa tersebut menolak mematuhi langkah 4,
kirimkan siswa
tersebut ke lokasi lainnya (misalnya
kantor sekolah) untuk
menyelesaikan
rencana.
2.2.3.2. Gunakan Strategi “Saatnya Berfikir”
Strategi
saatnya berpikir menyingkirkan siswa yang tidak mau patuh ke ruang kelas dari
guru lainnya untuk memberikan waktu bagi siswa tersebut untuk mendapatkan
fokusnya dan masuk kembali ke ruang kelas setelah melakukan komitmen untuk
mengubah perilaku (Nelson & Carr, 2000).
2.2.3.3. Gunakan Model Terapi Realitas
Gagasan
William Glasser (1975) dapat diterapkan menggunakan tahapan berikut ini :
1. Membentuk
keterlibatan dengan para siswa
2. Fokus pada masalah
3. Siswa harus
menerima tanggung jawab bagi perilaku tersebut
4. Siswa sebaiknya
mengevaluasi perilaku tersebut
5. Kembangkan sebuah
rencana
6. Siswa harus membuat
sebuah komitmen untuk menaati rencana
7. Tindak lanjuti dan
laksanakan.
8. Selain itu strategi
yang dapat digunakan adalah berunding dengan orang tua, dan membuat sebuah
kontrak individual dengan siswa.
Upaya Orang Tua dan Guru
Untuk Menanggulangi Perilaku Bermasalah Peranan Lembaga Pendidikan Untuk tidak
segera mengadili dan menuduh remaja sebagai sumber segala masalah dalam
kehidupan di masyarakat, barangkali baik kalau setiap lembaga pendidikan
(keluarga, sekolah, dan masyarakat) mencoba merefleksikan peranan
masing-masing.
Pertama, lembaga keluarga
adalah lembaga pendidikan yang utama dan pertama. Kehidupan kelurga yang
kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan menyebebkan anak
tidak kerasan tinggal di rumah. Anak tidak mersa aman dan tidak mengalami
perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk ketentraman
di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan
lain-lain. Banyak keluarga yang tak mau tahu dengan perkembangan anak-anaknya
dan menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah. Kiranya keliru
jika ada pendapat yang mengatakan bahwa tercukupnya kebutuhan-kebutuhan
materiil menjadi jaminan berlangsungnya perkembangan kepribadian yang optimal
bagi para remaja.
Kedua, bagaimana pembinaan
moral dalam lembaga keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kontras tajam antara
ajaran dan teladan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh
panutan di masyarakat akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku,
dan moralitas para remaja. Kurang adanya pembinaan moral yang nyata dan
pudarnya keteladanan para orangtua ataupun pendidik di sekolah menjadi faktor
kunci dalam proses perkembangan kepribadian remaja. Secara psikologis,
kehidupan remaja adalah kehidupan mencari idola. Mereka mendambakan sosok orang
yang dapat dijadikan panutan. Segi pembinaan moral menjadi terlupakan pada saat
orang tua ataupun pendidik hanya memperhatikan segi intelektual. Pendidikan
disekolah terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan,
mengejar bahan ajaran, sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian penanaman
nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.
Ketiga, bagaimana
kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat apakah mendukung optimalisasi perkembangan
remaja atau tidak. Saat ini, banyak anak-anak di kota-kota besar seperti
Jakarta sudah merasakan kemewahan yang berlebihan. Segala keinginannya dapat
dipenuhi oleh orangtuanya. Kondisi semacam ini sering melupakan unsur-unsur
yang berkaitan dengan kedewasaan anak. Pemenuhan kebutuhan materiil selalu
tidak disesuaikan dengan kondisi dan usia perkembangan anak. Akibatnya, anak
cenderung menjadi sok malas, sombong, dan suka meremehkan orang lain.
Keempat, bagaimana lembaga
pendidikan di sekolah dalam memberikan bobot yang proposional antara
perkembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak. Akhir-akhir ini banyak
dirasakan beban tuntutan sekolah yang terlampau berat kepada para peserta
didik. Siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga dipaksa oleh orangtua
untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengikuti les tambahan
di luar sekolah. Faktor kelelahan, kemampuan fisik dan kemampuan inteligensi
yang terbatas pada seorang anak sering tidak diperhitungkan oleh orangtua.
Akibatnya, anak-anak menjadi kecapaian dan over acting, dan mengalami
pelampiasan kegembiraan yang berlebihan pada saat mereka selesai menghadapi
suasana yang menegangkan dan menekan dalam kehidupan di sekolah.
Kelima, bagaimana pengaruh
tayangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang acapkali
menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan.
Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok remaja, Para remaja
tidak dipersatukan oleh suatu identitas yang ideal.
BAB III
PROFIL SEKOLAH
A. IDENTITAS
SEKOLAH
Nama Sekolah : SDN 2 Demung
Alamat : Demung
Barat
Kecamatan : Besuki
Status Sekolah : Negeri
Status Mutu : Pra PSM
Waktu
Penyelenggaraan : Pagi
Kategori Sekolah : SD Biasa
NPSN / NSS :
20523031 / 101052303025
Akreditasi : B
Akses Internet : Smart
Email : sdn2demung@rocketmail.com
B. Biodata
data muri, kelas rendah yang bermasalah
1. Nama :
Moh.Rohit Mahendra
Tempat Tanggal
Lahir :
Situbondo, 05 Oktober 2005
Anak
Ke
:
2 dari 2 bersaudara
Nama
Orang Tua
: Ayah : Mahfud
Ibu : Suromla
Alamat : Kp. Karang Anyar Rt. 02/Rw. 02 Desa
Demung
Kec. Besuki Kab. Situbondo
Jenis-jenis
Masalah : Anak
tidak memperhatikan pelajaran
Anak yang suka mengganggu teman
2. Nama :
Risky
Tempat
Tanggal Lahir : Situbondo, 13 November 2001
Anak
Ke
:
2 dari 2 bersaudara
Nama
Orang Tua
: Ayah : Kustijo
Ibu : Jula
Alamat : Kp. Karang Anyar Rt. 02/Rw. 03
Desa Demung
Kec. Besuki Kab. Situbondo
Jenis-jenis
Masalah : Anak
tidak memperhatikan pelajaran
Anak yang suka mengganggu teman
Anak sering tidak masuk
C. Biodata
data muri, kelas tinggi yang bermasalah
1. Nama :
Moh. Nur Arisal
Tempat
Tanggal Lahir : Situbondo, 09 Mei 2002
Anak
Ke
:
1 dari 2 bersaudara
Nama
Orang Tua
: Ayah : Supriadi
Ibu : Nuraini
Alamat : Kp. Karang Tambak Rt. 01/Rw. 02
Desa Pesisir
Kec. Besuki Kab. Situbondo
Jenis-jenis
Masalah : Anak
tidak memperhatikan pelajaran
Anak yang suka mengganggu teman
Anak sering keluar masuk kelas
Anak Sering tidak masuk
2. Nama :
Putra Fauzi
Tempat
Tanggal Lahir : Situbondo, 05 Desember 2002
Anak
Ke
:
1
Nama
Orang Tua
: Ayah : Saniman
Ibu : Nisa
Alamat : Kp. Ketah Rt. 01/Rw. 01 Desa
Demung
Kec. Besuki Kab. Situbondo
Jenis-jenis
Masalah : Anak
tidak memperhatikan pelajaran
Anak yang suka mengganggu teman
Anak sering keluar masuk kelas
BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Guru perlu memahami perilaku bermasalah anak,
sebab “murid yang bermasalah” biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia
menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan
lingkungannya.
Murid SD merupakan individu yang
khas, penghampiran terhadap permasalahan individu memerlukan penanganan yang
berbeda. Teknik-teknik membantu murid bermasalah memberikan wawasan dalam
memberikan bantuan terhadap murid bermasalah.
Jadi sebagai guru, terutama guru bagi siswa
SD harus mengetahui mengapa suatu anak itu bermasalah dan sebaik mungkin
seorang guru SD harus bisa membimbing siswanya dengan baik dan solusi yang
tepat agar siswanya dapat keluar dari masalah yang dihadapi.
. 3.2 Saran
Agar Permasalahan
yang terjadi pada anak tidak terulang kembali, hendaknya guru sering memberikan
bimbingan dan pengertian kepada anak. Selain itu juga guru lebih sering
memberikan penugasan supaya anak dapat mengembangkan dan rangsangan untuk
berpikir.
DAFTAR PUSTAKA
Evertson, Carolyn M.
,Emmer, Edmund T. 2011. Manajemen Kelas untuk Guru Sekolah Dasar. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group
.
Imron, Ali. 2011.
Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Fandi. 2011. “Bimbingan
Bagi Anak Yang Berperilaku Masalah”. http://belajaritu
baik.wordpress.com/2011/05/18/bimbingan-bagi-anak-yang
berperilakubermasalah-2/. (27
Oktober 2012).
Rian. 2011. “Perilaku
Menyimpang”. http://silvrz.blogspot.com /2011/11/perilaku-menyimpang.html. (27
Oktober 2012).
LAMPIRAN![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||





